Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Berani Jujur Hebat (Sejenis Curhat)

Diam-diam aku makin menyadari bahwa aku ternyata tak punya tekad yang cukup kuat untuk melewati sebuah pintu yang di baliknya ada keharusan untuk berbagi dengan seseorang. Tak punya tekad mungkin bisa diperkasar dengan ungkapan tak ada keberanian. Aku membayangkan sebuah kengerian ketika seseorang harus tahu aku luar dalam, dan akupun harus menerima kenyataan harus memahami seseorang luar dalam. Sedikit banyak ini kubaca dari perubahan teman-temanku setelah mereka arungi bahtera itu.


Ahay... mungkin aku sedang berdalih melalui konsep-konsep rumit ini. Bagi kamu, ini bisa lebih sederhana. Seperti orang-orang yang berusaha menawarkan iming-iming: "enak lo...ada yang merawat, ada yang memperhatikan, ketimbang nggak jelas kaya gitu", atau yang lebih sadis "jangan-jangan kamu gay..", atau "maumu apa sih? jangan milih-milih lah, sadar diri..", jujur aku tak mampu menjawab sepatah katapun selain berusaha keras menghindar.

Kadang aku berpikir yang membuat aku merasa tidak/kurang normal justru adalah gencarnya kalian memberi perspektif tentang pernikahan. Dengan kalimat lain, kalian lah yang menyebabkan aku jadi seperti pesakitan. Yahay...ini mungkin hanya dalih yang lain.

Yang lucu, ada kawan yang ketika mendengar aku sakit flu langsung memberi nasehat gratis "Itulah kalau tidak ada yang merawat...sakit kaan", meski aku dan dia tahu bahwa suaminya lebih sering sakit dari aku. Yah tapi ini hanya argumen kecil yang tidak bermanfaat. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, aku memaklumi kenormalan kalian. Karena kalian sangat banyak dan aku cuma sendiri.

Aku pernah berpikir aku butuh stimulan yang sungguh kuat mendorong keberanianku untuk melewati pintu itu. Aku pernah merasakan stimulan itu yang membuatku justru terkoyak-koyak. Dengannya aku rela permalukan diri sendiri, ingin mengelilinginya sepanjang waktu, seperti bumi mengitari mentari, menantinya membukakan jendelanya untukku. Namun tak ada mentari terbit, tak kunjung jendela terbuka. Terjebak dalam rimba gulita yang kuciptakan sendiri. Mungkin ia tertawa menyeringai sambil mengintip dari balik jendela, menjadi saksi bisu atas kepalsuanku atau kekonyolanku.

Dan aku belum memaafkan diriku sendiri atas stimulan sepihak itu. Belum sepenuhnya. Meski sadar bahwa ini hanya kekonyolan yang tak ada guna. Lebih baik mengakuinya ketimbang menyangkalnya. Mengakui pahalanya satu, menyangkal malah tak kemana-mana.

Dengan gagalnya stimulan itu, runtuh pula teoriku. Seperti kalian sering bilang, tak perlu teori tak perlu logika. Jalani dan lakukan saja atas nama tujuan yang lebih realistis, hidup terawat dan beranak-pinak, memenuhi bumi Allah ini dengan anak manusia.

Tentu saja aku tak tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa, apakah aku dapat menghentikan ke-keraskepala-anku (atau menurut kalian kekonyolanku)atau memilih menjadi "normal" seperti kalian. Hari ini aku memilih mengalir saja. Mungkin itu bukan pilihan yang konkret, tapi aku sudah tak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Tak ada teori lagi. THE END.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ANAS

Aku memilih jalan di luar mainstream. Membela orang yang dilabeli "musuh rakyat" yang sedang diperangi KPK. Ini bukan jalan yang mudah dan populer. Di tengah ramai massa yang galak mendukung pemberantasan korupsi, aku malah mendukung "koruptor"...


Jika kalian sering membaca sekelompok orang yang disebut media sebagai loyalis Anas, maka aku adalah salah satu dari mereka. Aku tidak sedang berbangga atau merasa bersalah atas sebutan itu, semuanya kulakukan karena aku harus melakukannya. Aku wajib mengambil posisi itu tak perduli apa kata dunia tentangnya.

Sebelum terlalu jauh, aku ingin menjelaskan lebih dulu bahwa aku bukan anggota apalagi petinggi Demokrat, bukan pula orang yang mendapatkan manfaat berlebih saat Anas berada di puncak. Aku mengenalnya jauh sebelum Partai Demokrat lahir.

Bagi orang-orang seperti aku, yang mengenal Anas dari dekat dan cukup lama, ada lebih banyak cara dan jalan untuk mencintai dan menghormati Anas di tengah hujatan dan hinaan yang diterimanya selama bertahun-tahun dari orang-orang yang tak seberapa mengenalnya.

Tidak banyak aku mengenal politisi atau pemimpin seperti Anas. Kemampuannya, kehalusan budinya, caranya memperlakukan orang lain, bahkan jika orang lain itu membenci dan menyerangnya. Bukan satu dua kali aku terpukau oleh sikap pemaafnya pada orang-orang yang berusaha melukainya atau yang mengecewakannya, termasuk hal-hal yang pernah kulakukan sendiri. Aku melihat kualitas seorang manusia, bukan semata-mata kualitas kepemimpinan. Dan aku sangat bangga dan bersyukur pernah mengenalnya dari dekat.

Aku mengikuti perkembangan kasus yang menimpa Anas, mungkin lebih dari kebanyakan orang. Aku mengikuti juga bagaimana ia menghadapi kenyataan itu. Bagiku, mungkin hanya 1 dari sejuta orang yang bisa menghadapinya dengan ketenangan yang tetap bersinar, tanpa menjadi gila. Mungkin aku sendiri sudah masuk rumah sakit jiwa jika aku berada di posisinya.

Sedikit ingin kubagi rasaku di sini, bagaimana seseorang bisa dihina sedemikian rupa, dikhianati, diasingkan, dikucilkan, dicari-cari kesalahannya, didakwa, dituntut, dan divonis dengan gegabah, bagiku apa yang dialami Anas adalah ujian setingkat Waliyullah. Aku tak ingin berlebihan, tapi itu yang sungguh kurasakan. Bagaimana mungkin aku harus meninggalkan seorang "Waliyullah" di dalam pencariannya atas kebenaran dan keadilan?

Sama seperti kalian, aku juga sangat menghargai hadirnya KPK di tengah frustasi publik akan keadilan. Akupun mendukungnya. Namun di tengah gejolak itu, bagiku, kita tetap harus menyisakan sedikit kritisme agar lembaga ini tetap berada di relnya. Di mataku, ada kekuatan yang ingin membajak lembaga ini, demi dua tujuan: kekuasaan dan hegemoni atas tafsir hukum tertentu. Di tangan kekuatan pembajak ini, KPK bagaikan balon yang semakin mengembang melewati batas-batasnya, menjadi tuhan yang tak bisa dibantah. Siapa yang bisa menjamin satu ketika balon itu tidak akan meletus akibat kerasnya hawa kekuasaan yang dihirupkan ke dalamnya?

Dan aku demikian kecewa dengan cara KPK memperlakukan Anas... Kalian bukan malaikat (apalagi tuhan), dan meskipun jujur Anas pun bukan malaikat. Tetapi, atas dasar apa kalian menarget Anas seakan-akan ia adalah Setan dan kalian adalah Malaikat? atas dorongan apa kalian menganggap diri sebagai Musa dan memperlakukan Anas seolah ia Firaun? Di tengah Setan-setan dan Firaun yang lebih nyata, apa alasan kalian memilih Anas?

Jujur aku tak tahu jawabnya...Pembuktianmu di 25 kali persidangan tak membuatku yakin kalian punya alasan yang cukup kuat. Aku menyimak dan mengikutinya dengan teliti. Meski telah hadir vonis berat itu, aku tak bisa menangkap ide kalian tentang Anas selain kalian memang "harus" menghukumnya, entah demi apa... dan semua keputusanmu yang gegabah tak akan membuatku berpaling dari Anas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tak Kusangka Merindukanmu Sedemikian Hebat

Dulu, aku sering menertawakan "dalam hati" orang-orang yang mengekspresikan kerinduannya pada tanah suci. Kuanggap itu ekspresi yang lebay dan hanya ingin dipuji "keimanannya" di depan orang lain. Bagaimana mungkin merindukan tanah gersang yang panas membakar itu....


Tetapi lama-lama akupun merasakan yang mereka rasakan. Kusempatkan menoleh setiap ada tayangan yang menunjukkan tanah suci, membaca setiap berita yang bertutur tentang tanah suci, menyimak penuh minat pada setiap kawan yang hendak ke tanah suci.

Aku bahkan acapkali teringat bau khas tanah suci, hawanya, hiruk pikuk suara orang mengaji, hingga bau buah-buahan yang dulu sering kubeli saat di tanah suci. Aku rindu suasana itu...

Apakah aku sedang berkhayal tentang kemabruran? Rasanya sangat jauh... bukan berarti aku tidak mengharapkannya. Tapi aku menolak konsep bahwa tanda kemabruran adalah ingin ke tanah suci lagi. Ada temanku yang setiap tahun berangkat ke tanah suci, belum tentu karena mabrur...tapi karena ia memang punya travel haji, hehehe.

Apakah aku merindukannya karena sepanjang usiaku ini, tak banyak hal berarti yang kulakukan? Saat berhaji, aku merasakan banyak arti dan makna yang kulakukan, minimal ketika bersiap sedia membantu ibu menyempurnakan ibadahnya, atau ketika sedikit menolong jemaah-jemaah yang kesasar.

Apakah aku merindukannya karena tak ada hal lain yang bisa kurindukan? Wallahu A'lam... Yang pasti aku sangat merindukannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kebangkitan Nasional; Indonesia untuk Indonesia (2)

Tanam Paksa dan Politik Etis


Setelah kebangkrutan VOC, Pemerintah Belanda mengambil alih perannya, mengurus langsung tanah jajahan dalam nama Hindia Belanda (Netherlands Indie) sejak tahun 1800. Namun apa yang berubah dari pergantian tatanan tersebut?

Tiga dekade pertama Hindia Belanda justru menemui masalah sulit. Perang Padri di Sumatera Barat, Perlawanan Diponegoro di Jawa, dan lepasnya Belgia dari kekuasaan Belanda di Eropa membuat House of Orange berada di tepi jurang kebangkrutan di akhir 1830-an.

Menanggapi situasi ini, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch membuat gebrakan peraturan baru yang bernama Cultuurstelsel (tanam paksa) tahun 1830. Kebijakan ini berpusat di Jawa dengan mewajibkan 20% tanah di Jawa untuk ditanami komoditas ekspor seperti kopi dan tebu. Belanda juga mewajibkan setiap petani Jawa menyumbangkan tenaganya selama 60 hari dalam setiap tahun untuk bekerja di perkebunan Belanda, bahkan melarang petani Jawa bepergian dari desanya agar mereka bisa menaati peraturan tanam paksa.

Dampak Cultuurstelsel demikian luar biasa. Sepanjang 1830-1870, keuntungan senilai 1 miliar Gulden diangkut dari Hindia ke Amsterdam, menyumbang rata-rata 25% dari anggaran tahunan negeri Belanda. Belanda pun terselamatkan dari tepi jurang kebangkrutan.

Sebaliknya, petani di Jawa hancur penghidupannya. Mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri karena sebagian tanahnya tidak boleh ditanami padi. Kemiskinan, kelaparan, dan wabah penyakit meruyak. Tahun 1840an, Cirebon dan pedalaman Jawa Tengah dilanda bencana pangan. Sementara elit Jawa, alih-alih melawan, mereka menjadi bagian dari operasi Cultuurstelsel.

Kemakmuran Belanda setelah Cultuurstelsel bukan hanya memenuhi kantung kerajaan, tetapi juga meningkatkan modal swasta Belanda yang pada gilirannya mengkampanyekan penghentian Cultuurstelsel agar modal swasta Belanda bisa turut mengeruk kekayaan Hindia. Sejak 1870, Cultuurstelsel dihentikan dan perkebunan swasta menjamur, kali ini bukan hanya di Jawa, tetapi merambah pulau-pulau lain. Komoditas tanaman yang diperkenalkan pun semakin banyak: tembakau, teh, kina, kakao, dan karet. Sumatera dan Kalimantan dibuka untuk pertambangan minyak.

Bagi Belanda, keuntungan dari usaha swasta di Hindia semakin melipatgandakan kekayaan mereka. Hindia Belanda menjadi penyuplai terbesar kina dan merica dunia, lebih dari sepertiga produksi karet, seperempat produksi kelapa, seperlima produksi teh, gula, minyak bumi, dan kopi dunia. Karenanya, Belanda pun berkibar menjadi kolonialis terkemuka di dunia.

Bagi elit pribumi, perkebunan swasta turut menghadirkan pundi-pundi uang bagi mereka dari hasil penyewaan lahan-lahan. Namun bagaimana bagi pribumi kebanyakan? Sepintas, dampak perkebunan swasta telah meningkatkan kualitas hidup pribumi Hindia. Ditandai dengan ledakan penduduk di Jawa pada era tersebut. Namun ini adalah kesejahteraan yang semu dan rentan. Terbukti ketika dunia dihajar krisis ekonomi tahun 1880an, pribumi Hindia menjadi salah satu korban pertamanya. Kemiskinan dan kelaparan di berbagai wilayah di Hindia kembali meruyak, tidak lebih baik dibandingkan kondisi era sebelumnya.

Kondisi ini memicu protes di kalangan aktivis sosial di negeri Belanda. Karya-karya lama seperti Max Havelaar (karya Multatuli) kembali dibaca dan memberi pengaruh besar bagi aktivis dan kelas menengah Belanda. Pieter Brooshooft, seorang jurnalis Belanda menulis tentang kewajiban moral Belanda untuk memberikan kesejahteraan lebih pada pribumi Hindia. Dia menggambarkan pribumi Hindia sebagai kanak-kanak yang lebih butuh dibantu daripada ditindas. Aktivis sosial Belanda mendukung pandangan Brooshooft, meminta audiensi dengan Ratu Wilhelmina, dan mengingatkan elit Belanda tentang hutang kehormatan “debt of honour” kepada pribumi Hindia yang wajib dibayar dengan memperbaiki kehidupan pribumi Hindia.

Hindia lah yang menyelamatkan Belanda dari jurang kebangkrutan. Hindia sebagai wingewest (daerah jajahan penghasil keuntungan) telah mengembalikan kejayaan dan kekayaan Belanda. Dan untuk itulah Belanda harus balas budi.

Tekanan kalangan aktivis sosial dan kelas menengah ini memaksa pemerintah Belanda membuat kebijakan baru yang lebih berpihak kepada kesejahteraan Hindia, yang kemudian disebut sebagai politik etis atau politik balas budi, yang diluncurkan tahun 1901.

Tiga program utama kebijakan politik etis adalah irigasi (membantu ketersediaan pangan Hindia), migrasi (memindahkan penduduk dari pulau Jawa yang padat ke luar jawa), dan edukasi (membuka pendidikan barat modern kepada kalangan pribumi).

Pada tahun 1900, hanya 1.500 pribumi yang mampu mengecap pendidikan dasar modern, jumlah ini meningkat menjadi 75.000 orang pada 1928. Jumlah ini masih sangat kecil namun sangat berarti dibandingkan era-era sebelumnya.

Bagi Belanda sendiri, motif peluncuran kebijakan politik etis sebenarnya adalah tetap dalam koridor untuk menjaga kelangsungan kekuasaan Belanda atas pribumi, sebagaimana dinyatakan ayah Ratu Wilhelmina, William III, yakni “The sacrifices needed of us to maintain our authority over them”.

Namun jarum jam sejarah berkata lain. Munculnya elit pribumi terdidik, sebagai produk politik etis, justru telah menyemai benih ide-ide kebangsaan Indonesia. Belanda yang perkasa tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memutar balik jam sejarah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kebangkitan Nasional; Indonesia untuk Indonesia (1)

Tentang Nama dan Identitas Indonesia.


Bagaimana melacak masa lalu Indonesia? Secara serampangan pendidikan sejarah di sekolah-sekolah membuat batasan yang longgar tentang apa dan siapa bangsa Indonesia. Misalnya beberapa tokoh dari masa lalu seperti Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, hingga Pattimura, dimasukkan dalam kategori pahlawan nasional.

Tanpa mengurangi rasa hormat, semua tokoh di atas tidak pernah lebih dari pahlawan lokal atau pahlawan rakyat setempat. Perlawanan mereka terhadap VOC atau Belanda berangkat dari kasus-kasus lokal dengan karakteristik lokalitasnya, yang tidak ada kaitannya dengan cita-cita sebuah bangsa (nation) bernama Indonesia. Bahkan seumur hidupnya mereka tidak pernah tahu nama Indonesia.

Istilah Indonesia (atau Indunesia), pertama kali muncul tahun 1847, dalam Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia, sebuah jurnal ilmiah tahunan berbasis di Singapura, yang digawangi oleh James Richardson Logan dan George Samuel Windsor Earl. Istilah tersebut murni istilah etnografi dan geografi untuk menggantikan sebutan umum bagi kawasan yang terbentang antara Persia dan Tiongkok, yakni Hindia Belakang, atau Hindia Timur, atau Kepulauan Hindia. Belanda sendiri menyebut kawasan itu sebagai Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie).

Istilah ciptaan Logan dan Earl, mendapat momentumnya di tangan Adolf Bastian, guru besar Etnologi Universitas Berlin, pada tahun 1884, melalui terbitan buku yang menjadi sangat populer di Eropa, berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu). Sejak saat itu Indonesia menjadi istilah yang umum, namun tetap dalam konteks etnografi dan geografi.

Penggunaan nama Indonesia dalam kontek di luar etnografi dan geografi (baca: politik) baru dimulai pada dekade kedua abad 20. Adalah Ki Hajar Dewantara, saat dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 mendirikan sebuah biro pers bernama Indonesische Persbureau. Kemudian Mohammad Hatta, mahasiswa sekolah tinggi ekonomi di Rotterdam yang kelak menjadi wakil presiden Indonesia yang pertama, tahun 1922 mengubah nama organisasi pelajar dan mahasiswa asal Hindia di Belanda, dari Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Tahun 1924, Perserikatan Komunis Hindia mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia, dan Dr. Soetomo mendirikan Indonesische Studie Club. Gelombang demi gelombang arus pergerakan kemudian menamai dirinya sebagai Indonesia, yang berpuncak pada gegar Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928.

Menjadi jelas bahwa nama Indonesia baru terinstal dalam memori sejumput elit sosial pribumi pada sekitar tahun 20-an—untuk menamai untaian kepulauan beserta yang hidup di atasnya, yang membentang seluas 1.919.440 km2—yang sebelumnya nyaris tidak memiliki ide tentang satu kesatuan bangsa, selain kesadaran sebagai bangsa Aceh, bangsa Batak, bangsa Minang, bangsa Sunda, bangsa Jawa, Madura, Bali, Sasak, Bugis dst. Indonesia tak ubahnya imagined communities project, meminjam istilah Ben Anderson, yang digagas oleh sangat sedikit elit intelektual.

Selain perkara nama, identitas kesatuan wilayah yang kemudian bernama Indonesia, ternyata juga sama kaburnya. Terdapat sejumlah kisah besar di masa lalu, di era kerajaan Sriwijaya, dan kemudian Majapahit, yang kerap dibanggakan menjadi akar persatuan wilayah Indonesia, sesungguhnya tak lebih dari imajinasi. Majapahit, dalam Nagarakertagama, digambarkan menguasai wilayah dari Sumatera hingga New Guinea, setara dengan wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand Selatan, Filipina, Timor Leste, dan Papua New Guinea saat ini.

Namun kita luput membuat penilaian seefektif apa Majapahit menguasai dan memerintah wilayahnya sebagai satu kesatuan kekuasaan yang utuh. Mengingat wilayah yang dikuasai langsung dan terus menerus oleh Majapahit tidak pernah lebih luas dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Sedangkan selebihnya hanyalah permainan upeti belaka. Kepada setiap daerah taklukan yang lalai mengirim upeti, Majapahit akan mengirimkan armada perangnya untuk memberi hukuman, menaklukkan ulang, lalu pergi begitu saja. Tidak ada yang namanya kesatuan wilayah yang terpelihara.

Selain itu, zaman keemasan Majapahit dengan daerah taklukan yang luas tidak lebih dari 100 tahun lamanya, yakni sejak Gajah Mada diangkat menjadi Patih (1313) hingga mangkatnya Hayam Wuruk (1389). Masa yang terlalu singkat untuk menanam benih persatuan wilayah. Bandingkan dengan kekaisaran Jepang yang telah membina keutuhan wilayah sepanjang 1.354 tahun (sejak didirikan oleh Kaisar Jimmu tahun 660 hingga saat ini, tanpa terputus). Bandingkan juga dengan rasa kebangsaan Turki yang telah dirawat sepanjang 998 tahun, melalui 3 masa kekuasaan efektif (Turki Seljuq (1016), Turki Usmani (1299), dan Republik Turki (1923)). Dibandingkan kedua negeri tersebut, Indonesia tampak seperti remaja tanggung yang baru tumbuh jerawatnya.

Kesatuan wilayah Indonesia justru diperkenalkan secara perlahan oleh Belanda setelah ambruknya VOC tahun 1800, melalui proyek Hindia Belanda. Bagian demi bagian kepulauan ini dirajut, dikelola, diperintah dengan sistem administrasi efektif dan menyatu di bawah panji Hindia Belanda. Bahkan hingga akhir kekuasaan Hindia Belanda, mayoritas pribumi (inlander) tidak pernah punya bayangan tentang sebuah bangsa bernama Indonesia, yang lepas sepenuhnya dari Belanda. Menjadi jelas, Indonesia adalah pewaris Hindia Belanda. Suka atau tidak.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Invicible Hand Itu Ya Allah.

Cara terbaik menghadapi keterbatasan yang sedang mencekik leher adalah mengingat dan menyadari betapa seringnya Allah menolong kita dari arah yang tidak pernah kita sangka. Dengan begitu, tak perlu meratapi diri dan mengeluh seperti anak-anak Israel memprotes manna yang diturunkan Allah dari langit setiap hari, sehingga anak-anak Israel tak perlu lagi sibuk mengais-ngais makanan setiap hari. Jika kita berani menghitung, entah sudah berapa kali kita telah diselamatkan saat berada di bibir tebing... Tiba-tiba saja ada orang lewat memberi pertolongan, atau ada orang yang sudah lama mangkir tiba-tiba datang membawa kejutan, atau datang kawan lama yang membutuhkan bantuan yang kita mampu lakukan, dan atau-atau yang lain.. Bagi mereka yang jauh lebih tawadlu, pertolongan dari Allah itu bukan hanya sering, tapi selalu. Hingga udara yang kita hirup setiap detik, bukanlah peristiwa yang tanpa sebab khusus. Semuanya adalah pertolongan. Semut saja diberikan pertolongan, apalagi kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pencuri

Pencuri tidak mendatangi rumah-rumah kosong. Mereka selalu mendatangi rumah-rumah berisi milik para Hartawan.


Nafsu atau ego hadir lebih serius ketika kita sedang merasa baik, usai berbuat kebaikan. Dengan kecanggihan yang khas sang ego mencuri amal baik kita seolah itu miliknya. 

Berhati-hatilah pada sang pencuri yang bersemayam di dalam dirimu sendiri. Terutama setelah engkau kerjakan kebaikan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

There is a Candle in your Hearth

There is a candle in your heart Ready to be kindled There is a void in your soul Ready to be filled

You feel it, don’t you? You feel the separation From the beloved Invite him to fill you up Embrace the fire

Remind those who tell you otherwise that love Comes to you of its own accord And the yearning for it Cannot be learned in any school

-Jalaluddin Rumi-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wangsul

Gusti Pengéran, mboten wonten éngkang langkung saé tinimbang mlampah sadhérék nginthili kerso Panjenengan. Ibaratipun baito éngkang dhadal ing tengahipun jaladri, tuntun kawulo tumuju dhateng pesisir. Pesisiripun Panjenengan. Panggenanipun sedoyo jiwo éngkang saé wangsul. Kulo sampun tuwuk nuruti kerso piyambak, éngkang palsu, mboten jujur, pungkasanipun namung getir lan perih. Kulo nyadong pitedah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ujung Bulan Aneh

Seorang kawan memposting pernyataan pendek di akun twitternya; …bulan aneh…, untuk menyebut bulan Ramadhan. Bulan yang aneh… Anda sepakat dengan itu?

Jika kata aneh merujuk pada perlombaan beribadah dan beramal, semua melihat makan di siang hari menjadi aneh dan memalukan di bulan ini, maka harus dilakukan sembunyi-sembunyi. Aku sendiri menganggap tidak merokok dan ngopi di siang hari lebih terasa penderitaannya dibanding makan.

Tapi bukankah ini hal yang biasa, maksudku, dari kecil kita sudah berpuasa (entah anda..), dengan semua ritusnya, sahur, buka puasa, tadarrus, sahur, imsyak, gosok gigi…lalu tidur lagi, dimaafkan jika bangun lebih siang, ini kan puasa… apa yang aneh?

Aku justru merasakan keanehan itu bukan terletak pada ritus ibadahnya. Tetapi pada minggu terakhir seperti sekarang ini. Ada rasa asing dan agak menggigit ketika satu demi satu kawan-kawan pamit mudik. Tiba-tiba masuk ruang sunyi di ujung sebuah lorong, ini akhir waktu. Pintu hendak ditutup dan orang-orang bergegas pergi.

Ini berarti bukan puasa yang aneh, tapi mudik. Secara literal mudik hanyalah pulang kampung. Namun dalam praktek tidaklah sesederhana itu. Mudik berarti anda harus siap menguras rekening, menunggu THR atau semua jenis imbalan yang lain. Bagi orang-orang biasa, mudik bisa berarti…habiskan tabungan setahun. Di luar aspek materi, mudik juga berarti mari arisan keluarga… kembali ke akar, dan ziarah

Untuk kalian yang telah tercerabut dari akar, tak punya tujuan bermudik… apa yang anda rasakan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAJI: Tentang Kemabruran

Enam tahun lalu, dalam satu blog yang sudah kuhapus, aku pernah membuat tulisan singkat berjudul Kaji Sapi atau Haji Sapi. Bukan menunjuk kepada orang yang naik haji karena menjual sapi, tetapi berasal dari ungkapan kekesalan seorang tetanggaku terhadap seorang haji (berpici warna putih seperti warna kulit sapi) yang setelah pulang dari haji masih tetap berperilaku buruk, rakus tanah hingga menyerobot batas tanah tetangganya. Dasar Haji Sapi! Demikian umpatnya.

Kita sering mendengar istilah Mabrur, semua jamaah mengharapkan kemabruran, aku—meskipun kurang pede—juga mengharapkannya.

Tidak ada ukuran yang jelas tentang kemabruran. Orang-orang yang merasa mendapatkan pengalaman ruhani yang aneh-aneh selama di tanah suci, itu bukan ukuran kemabruran. Demikian juga orang yang berlinang air mata ingin berangkat haji lagi karena merasa demikian mencintai Ka’bah, bukanlah ukuran kemabruran.

Hanya Allah yang menentukan dan tahu siapa yang mabrur hajinya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengilustrasikan bahwa dari 600.000 jamaah haji belum tentu ada 6 orang yang hajinya mabrur. Duhai sulitnya..

Seorang yang berkhutbah wukuf di tendaku di Arafah membuat penjelasan yang menarik tentang tanda-tanda atau indikator kemabruran. Penjelasannya berdasarkan sebuah hadist yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrany: Dari Jabir RA, dari Nabi Muhammad SAW berkata "Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga". Lalu beliau ditanya "Apa tanda kemabruran ya Rasul?" Rasul bersabda "Memberi makan orang yang kelaparan, dan tutur kata yang santun".

Ternyata tanda-tanda kemabruran berdasar hadist nabi bukanlah tanda-tanda yang bersifat spiritual/transendental (alibi seorang haji yang tidak bisa menangis di depan Ka’bah) tetapi murni bersifat duniawi.

Sang khatib menjelaskan: tutur kata yang santun atau lisan yang baik adalah lisan yang tidak pernah menyakiti hati yang mendengar, memberi semangat dan harapan bagi yang mendengar, menghadirkan kenyamanan buat siapa saja yang diajak bicara.

Memberi makan orang yang kelaparan adalah semangat untuk selalu berupaya meringankan beban orang lain; tangan, kaki, harta, dan hatinya selalu diringankan untuk digunakan membantu orang-orang lain.

Penjelasan yang sederhana, luhur, dan tidak semudah mengatakannya.

Semoga aku tidak menjadi Haji Sapi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAJI: Tentang Persaudaraan

Aku bertanya-tanya apakah sebenarnya Hijir Ismail itu?, bangunan setinggi dada berbentuk setengah lingkaran yang menempel pada salah satu sisi Ka’bah. Hal ini membuat Ka’bah seperti menghadap ke arah Hijir Isma’il. Saat berthawaf mengelilingi Ka’bah kita dilarang menyelinap pada lorong di antara Ka’bah dan Hijir Isma’il, itu membuat thawaf kita tidak sah. Dengan demikian berthawaf mengelilingi Ka’bah sekaligus berarti turut mengelilingi Hijir Isma’il. Lalu apakah Hijir Ismail itu?

Dari beberap sumber yang kubaca, Hijir Isma’il adalah tempat dimana Nabi Isma’il diasuh semasa kecil, dan yang lebih penting lagi, tempat dimana Siti Hajar (ibunda Isma’il) dimakamkan. Dengan demikian hanya ada satu manusia yang makamnya ikut kita thawafi ketika mengelilingi Ka’bah. Satu-satunya manusia itu adalah Siti Hajar, seorang perempuan, budak, dan berkulit hitam. Allah telah mengutamakan Hijir Isma’il bahkan di atas Maqam Ibrahim sendiri. Hanya seorang perempuan budak berkulit hitam, lalu mengapa?

Allah telah menjungkirbalikkan konsep gender, derajad manusia dan prasangka rasial di rumahNya yang suci. Penghormatan terhadap Siti Hajar, budak perempuan yang berkulit hitam, menegaskan bahwa semua manusia adalah sama sederajad dan selayaknya saling bersaudara.

Persaudaraan dan empati terhadap sesama menurutku merupakan salah satu pelajaran paling penting dari haji. Dari seluruh rangkaian ibadah haji berkali-kali kita diingatkan oleh spirit persaudaraan dan empati, langsung maupun tidak langsung, dan kerap kali ini menimbulkan dilema tersendiri.

Bukan kebetulan bahwa sebagian besar jamaah haji telah berusia senja. Mereka lemah, akrab dengan penyakit, kepanikan dan kebingungan di tengah ramai manusia jamaah haji. Kita dikelilingi oleh manusia-manusia renta yang butuh pertolongan.

Maka manakah yang lebih utama; mengejar kesempatan mencium hajar aswad atau merawat jamaah renta yang sakit di sebelah kita? Memburu kesempatan berdoa di Raudlah dan Multazam atau menolong jamaah renta yang tersesat kebingunga? Dilema semacam ini terus hadir di depan kita. Jelas bahwa semua jamaah ingin ibadahnya sesempurna mungkin selama di tanah suci, namun menegakkan persaudaraan dan meneguhkan empati kepada sesama juga merupakan intisari dari haji.

Ada sebuah riwayat (yang aku lupa membacanya dimana) yang menyebutkan bahwa pada salah satu musim haji, Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa tahun itu orang yang hajinya paling diterima Allah adalah si fulan, yang kebetulan ibadahnya kurang maksimal karena ia berhaji sambil menggendong ibunya yang sakit. Wallahu A’lam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAJI: Tentang Kesucian

Suci itu bersih, suci itu wangi, bebas dari hadast besar maupun kecil. Mungkin itu yang terlintas di kepala kita.

Tapi sejak pertama kali menginjakkan kaki di Masjidil Haram, Makkah, aku terpaksa harus menegoisasi sebagian dari makna kesucian di atas.

Di masjid paling suci itu, tempat dimana kita dijanjikan akan memperoleh pahala 100.000 kali lipat jika shalat disana (dibanding shalat-shalat di masjid manapun di muka bumi), sangat susah menjaga kesucian dari hadast kecil. Manusia, lelaki-perempuan, hilir mudik tak beraturan di dalam masjid. Semakin mendekati Ka’bah, di pelatarannya, tidak ada tempat untuk membatasi lelaki dan perempuan.

Akibatnya sentuhan kulit lelaki-perempuan menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Jika menggunakan konsep kesucian konvensional, entah berapa kali kita harus berwudlu akibat sentuhan tersebut. Nyatanya semuanya ditoleransi.

Allah telah mentakdirkan rumahNya menjadi tempat berkumpul lelaki-perempuan tanpa terkecuali. Semuanya sama di mata Allah. Aku justru merasakan betapa tempat yang paling suci ini merupakan tempat paling egaliter bagi lelaki dan perempuan dibandingkan semua masjid di muka bumi ini. Ketika berthawaf mengelilingi Ka’bah dalam balutan kain ihram, semua lelaki dilarang memakai penutup kepala dan semua perempuan dilarang mengenakan penutup muka. Di tempat yang paling suci ini. Maka siapakah yang menyuruh perempuan mengenakan cadar? Allah atau manusia?.

Konsep kesucian semakin jungkir balik ketika ibadah haji mencapai puncaknya, di Arafah dan Mina.

Di Arafah, dimana merupakan intisari dari haji, tempat berdoa paling makbul dari semua tempat makbul, tempat yang langitnya dipenuhi malaikat pada hari wukuf, adalah antitesis dari konsep kesucian. Dalam balutan pakaian ihram di bawah terik mentari, gerah, cucuran keringat, bau manusia bercampur aduk, dilarang keras memakai wewangian, kamar mandi dan toilet pun sangat terbatas.

Di Arafah, manusia diminta merasakan kondisi paling alamiahnya, mendekati kondisi mayat (bangkai) berkafan kain ihram tak berjahit. Namun itulah puncak haji, puncak daripada "kesucian". Dan ternyata suci disini adalah berkeringat dan berbau.

Konon ketika Rasulullah pertama kali mengenalkan wukuf di Arafah dan bermalam di Mina sebagai puncak haji, meninggalkan kota Makkah dan Ka’bahnya, orang-orang kafir di Makkah menganggap itu tidak masuk akal; mengapa puncak haji justru dengan meninggalkan tanah suci?

Wahai mari kita pikirkan itu. Apa itu kesucian? Dimana tempatnya? Masih pantaskah kita merasa diri paling suci?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAJI: Tentang Motif

Menyempurnakan rukun Islam; Inilah jawaban paling mudah saat ditanya apa tujuan kita berhaji ke tanah suci. Mengingatkan kita pada rumus kuliner 4 sehat 5 sempurna, setelah makan nasi, lauk, sayur, buah, minumlah susu sebagai penyempurna. Setelah Syahadat, Shalat, Puasa, dan Zakat, maka berhajilah ke tanah suci.

Tetapi jawaban ini dapat mendorong kita ke arah konsep umum yang mudah menggelinding menjadi ritual penggugur kewajiban. Betapa banyak ibadah kita yang hanya menjadi penggugur kewajiban belaka. Yang penting saya sudah shalat maka telah gugurlah kewajiban saya sebagai muslim, yang penting sudah membayar zakat, yang penting sudah haji dst dsb

Tentu saja itu tidak salah dan tulisan ini bukan tentang salah dan benar. Dengan demikian tidak salah pula jika kita hendak mendalami makna ibadah yang hendak kita jalani, apalagi jika ibadah itu bergelar: penyempurna rukun Islam.

Ketika sadar akan berangkat haji aku dihadapkan pada pertanyaan yang sama. Aku merenung memikirkannya; apa tujuanku berhaji? Sejujurnya belum pernah aku membayangkan akan berhaji dalam waktu dekat, bukan prioritas buatku. Dalam beberapa kesempatan—dalam suasana penuh arogansi—aku pernah sesumbar: jika ada rezeki lebih maka Eropa-lah tujuanku, bukan Makkah. Allahummaghfirli.

Nyatanya aku pasti ke Makkah dan aku harus temukan jawaban itu. Maka terpaksa aku harus memikirkan kembali jalan kehidupanku; tentang iman yang timbul tenggelam, tentang hati yang berbolak-balik, tentang garis nasib yang tidak jelas, tentang rejeki yang kusut masai, tentang jodoh yang kian samar, tentang dosa-dosa yang menggunung, tentang stagnasi hidup, tentang semua derita, tentang semua keluh kesah dan kekalahan.

Dan aku tiba pada kesimpulan yang sedikit arogan. Aku berharap hajiku ini akan merubahku menjadi manusia baru, fase baru, tujuan baru, aku yang baru dst… bahkan terhadap sejumlah kawan yang bertanya apakah aku akan nyaleg pada pemilu 2014 kujawab: Tunggu setelah aku selesai haji!.

Lalu tibalah aku di tanah suci. Sedikit berdebar ketika pertama kali melihat pucuk menara Masjid Nabawi di Madinah, bergegas sowan menjumpainya.

Hari demi hari berlalu namun aku tidak menemukan momentum menggelegar sesuai tujuan yang telah kucanangkan. Tidak ada linangan air mata di tengah doa, tak ada degupan jantung yang sesakkan dada. Bertambah hari semua ritual menjadi makin biasa. Tunggulah hingga di Makkah, demikian seruku. Namun ketika sampai di kota paling suci itu motivasi beribadah justru makin kendur.

Dan aku menemukan betapa tujuan awalku berhaji menjadi semakin mewah dan menjauh dariku. Aku harus merevisinya, demikian kataku. Harus kutemukan tujuan baru dalam berhaji ini. Maka kususutkan tujuan itu menjadi: Mencari pengampunan dari dosa-dosaku yang menggunung. Lalu kuperbanyak istighfar, memikirkan dosa-dosa tersebut untuk memancing penyesalan. Kuhabiskan waktu yang panjang untuk beristighfar.

Namun, kembali lagi aku tidak pernah dihinggapi momentum yang merenggut jiwa. Seperti doa-doa kosong yang kita lempar ke langit dan hilang di ketinggian. Saat di Mina, seseorang berguman di dekatku: "sungguh luar biasa orang yang tidak menangis menyesali dosa-dosanya saat di Arafah…" saya menjawab dalam hati: "orang itu ada di dekatmu sekarang!".

Rasa penasaran mendorongku memaksimalkan eksploitasi batin untuk mengharap pengampunan hingga kuputuskan untuk ndeprok I’tikaf di pelataran Ka’bah di ujung malam, menggelar shalat tobat sambil memeras pikiran dan hati. Tetap tak ada air mata. Pikiran justru mengembara kemana-mana. Wahai…jenis apakah aku ini? Setinggi inikah hatiku???

Berbekal nasihat seorang kawan yang menyebut tentang “birrul walidain”, akhirnya aku harus menyerah hingga ke titik minimalis; haji ini semata-mata adalah untuk ibuku. Membantu ibuku menyempurnakan hajinya, menyemangati beliau, memastikan kesehatan beliau. Dengan itu aku berharap ikut kecipratan pahala dari ibuku. Aku juga berusaha meringankan kaki dan tangan untuk membantu jamaah lain yang tersesat atau kebingungan semata-mata agar ada doanya yang dibagikan kepadaku. Juga sebanyak mungkin menawari mendokan teman-teman di tanah air, siapa tahu ada yang makbul dan aku mendapatkan sedikit bagian. Hanya itulah yang aku sanggup lakukan disana.

Sesaat setelah kembali ke tanah air, seseorang mengatakan kepadaku satu kalimat: "salah satu dosa terbesar orang yang berhaji adalah tidak mempercayai bahwa doanya dikabulkan". Entah apa maksudnya mengatakan itu kepadaku, namun kalimat itu bagaikan anak panah yang meluncur deras ke hatiku.Jlebb!

Semoga benar kata Rumi, andai ibadahmu palsu belaka tetaplah persembahkan mata uang palsu itu kepada Allah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hutang

Tiba-tiba aku merasa memiliki hutang cukup banyak pada masyarakat, kepada orang-orang yang kukenal dan mengenalku…

kepada orang-orang yang seharusnya aku bisa lebih banyak memberi senyuman atas kehadiran mereka di dekatku.

Kepada orang-orang yang semestinya aku mengucapkan lebih banyak terimakasih atas bantuannya selama ini.

Kepada orang-orang yang semestinya aku meminta maaf telah kubuka aibnya tanpa mereka membalasnya.

Kepada orang-orang yang semestinya aku meminta maaf karena terus kucurigai ketulusannya.

Kepada orang-orang yang semestinya aku bisa bersikap lebih ramah karena kuanggap mengganggu padahal belum tentu.

Kepada orang-orang yang semestinya bisa lebih kuhangatkan hatinya setelah mereka berusaha menyenangkanku dan menopangku

Kepada orang-orang yang semestinya aku bisa lebih peduli setelah mereka menunjukkan kepedulian terhadapku.

Kepada orang-orang yang aku merasa risih/ilfil bila ia di dekatku setelah ia banyak menolongku.

Kepada orang-orang yang tanpa sengaja kusakiti hatinya.

Kepada orang-orang yang meminta banyak padahal aku tak punya.

Kepada orang-orang yang kuperlakukan kurang adil hanya karena aku kurang menyukainya.

Kepada orang-orang yang kuremehkan potensinya dan kurang kuhargai usahanya

Kepada orang-orang yang kuabaikan nasihatnya

Kepada orang-orang yang aku lupakan

Kepada orang-orang yang aku selalu berpura-pura seperti tak ada masalah yang harus diselesaikan

Kepada orang-orang yang aku tidak bisa jujur menyampaikan perasaanku

Kepada orang-orang yang perkataan jujurnya menyinggungku



-daftar ini masih panjang dan akan lebih panjang-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tentang Kalah



Menerima kekalahan itu berat, sebab semua orang menginginkan tropy kemenangan untuk dipamerkan. Menerima kekalahan itu berat, sebab masyarakat hanya peduli siapa yang menang. Menerima kekalahan itu berat, sebab hanya yang menang yang berhak menulis sejarah. Menerima kekalahan itu berat, sebab salah-salah bisa menghina diri sendiri atas kekalahan tersebut. Menerima kekalahan itu berat, sebab bayang-bayang kekalahan bisa menghantui kita seumur hidup.

Menerima kekalahan itu tak mudah, lebih mudah membayangkan kemenangan palsu sebagai hiburan. Menerima kekalahan itu tak mudah, lebih mudah merekayasa seandainya-seandainya. Menerima kekalahan itu tak mudah, lebih mudah menyalahkan orang lain sebagai penyebab kekalahan. Menerima kekalahan itu tak mudah, lebih mudah bersembunyi menghindari perjumpaan dengan si pemenang. Menerima kekalahan itu tak mudah, lebih mudah terus mencari celah agar bisa menang entah kapan.



Tetapi temans..

Siapakah yang sesungguhnya lebih kuat dari mereka yang mampu mengikhlaskan kekalahannya demi meraih kembali keutuhan dirinya?

Siapakah yang sesungguhnya lebih kuat dari mereka yang mau melihat kekalahan sebagai cermin untuk menyusun kembali hatinya?

Siapakah yang sesungguhnya lebih kuat dari mereka yang mampu tersenyum menatap kekalahannya sama halnya ketika ia mensyukuri sebuah kemenangan dengan wajar?



Tentu saja itu berat dan tidak mudah..

Hanya keyakinan dan niat baik dan kerendah hatian dan sebuah ihtiar untuk mengumpulkan kembali semua yang berceceran.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Setelah Sebulan Berlalu

Catatan:

10 menit lalu aku menerima sms yang memberitakan wafatnya pak lek/om, adiknya ibu, yang rumahnya berjarak hanya 50 meter dari rumah bapak. Artinya tepat sebulan setelah wafatnya bapak (selisih 6 menit). Allahummaghfirlahu.....

Sebulan ini nampaknya aku dipaksa akrab dengan kematian-kematian, sesuatu yang sebelumnya nyaris tak menyentuh hati. di grup-grup BB yang kuikuti hampir setiap hari ada berita duka. Namun kematian orang lain kerap tak memberi pengaruh apa-apa, kecuali ucapan spontan turut bela sungkawa, secuil empati.

Dulu di sekolah dasar ada ungkapan: kematian adalah salah satu contoh kiamat kecil, utamanya bagi yang mengalaminya dan juga dampak gempanya ke kerabat dekat. Aku, dengan ekspresi minimalis, turut merasakan terjangan itu ketika bapak dipanggil.

Sebulan ini sekurang-kurangnya aku bermimpi ketemu bapak 3 kali. dua kali hanya sekelebat yang tidak sempat bertukar sapa, yang terakhir terasa lebih dekat dan kusempatkan meminta maaf. Mungkin ini hanya sedikit reaksiku atas sesal karena tak bisa menjumpainya di kala masih sadar. Tak ada wasiat, tak ada pesan, hanya linangan air matanya, yang entah kenapa sering tiba-tiba hadir di kepalaku hingga saat ini.

Sebulan ini juga, ingatan akan wajahnya kerap muncul ketika aku hendak melakukan hal-hal yang kurang patut, atau sedikit kontras dengan kesahajaannya. Seolah diingatkan: "bapakmu nggak seperti itu le..." Tapi aku jujur kadang itu mempan, kadang tidak.

Makin kesini aku seperti terjebak dalam satu kontradiksi. di satu sisi semakin kurasakan "bapak" dalam diriku, banyak sifatnya kuwarisi, tetapi di sisi lain aku seperti ingin tunjukkan bahwa aku tak seperti dia. Walau aku tak paham seluruhnya, apa gunanya itu.

Tapi hidup adalah perjalanan kontradiksi. Tugasku hanya mencari solusi dan keseimbangan. Bapak tetap "sesuatu" yang mengingatkanku akan akar kehidupanku. Namun aku memiliki pohonku sendiri.

Semoga Bapak disana tahu bahwa aku memikirkannya, merenungkannya, dan (kadang) mendoakannya. Bukan demi Bapak, tapi demi aku sendiri, perjalananku. dan tentunya juga demi emakku yang... harus kujaga hatinya.

Bapak... Maafkan semua kesalahanku.

Pak Lek Fadloli, semoga jalanmu diperlebar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BAPAK

Tepat 24 jam yang lalu...

Saat dua sentakan lembut nafas terakhirmu. Belum pernah kusaksikan Naza' sebelumnya, apalagi terjadi tepat di depan mataku. Kematian seperti puncak adegan yang merampas seluruh emosi.

Sekejap kemudian semua gerakan pun berhenti; tak ada sengal nafasmu lagi, tak ada kejang otot lagi. Terimakasih Ya Allah, Kau akhiri hidupnya dengan cepat dan mudah.

Kulepas jemarimu yang mulai melemas, aku harus memberi giliran kerabat yg lain mendekat. Tiba-tiba dua aliran hangat membasahi mataku. Tapi semua isak harus ditahan, banyak tugas sebagai anak lelaki tertua yang harus kukerjakan

Bapakku..., aku tak punya banyak kenangan denganmu. Kita tak pernah dekat, saling menjaga jarak seperti kebanyakan pria Jawa dengan anak lelakinya. Aku bahkan tak pernah betah berbincang lebih dari 5 menit denganmu. Tak ada yg menarik dari ucapanmu kecuali rentetan kisah masa lalu atau nasehat-nasehat garing..

Namun bagiku ada satu keistimewaanmu; keberanianmu menunda semua kenikmatan duniawi hingga kelima anakmu menjadi sarjana. Menunda membeli TV, motor, tak pernah ada kain dan perhiasan untuk ibuku, dan semua macam kenikmatan lain. Jika 70% gajimu harus disisihkan setiap bulan untuk biaya pendidikan anak-anakmu selama hampir 30 tahun. Sungguh tak mudah bagi seorang guru agama SD golongan II melakukannya.

3 hari lalu saat baru sampai di depanmu, terbaring lemah di ranjang rumah sakit, aku terhenyak oleh satu kejutan kecil yang membuat dadaku agak sesak. Kau hanya menyambut kedatanganku dengan linangan air mata tanpa sepatah kata. Bibirmu sudah terlalu lemah untuk mengatakan apapun, bahkan harus kutarik tanganmu agar bisa kucium.

Air mata itu mengundang seribu pertanyaan sekaligus kecemasanku.

Aku takut tak bisa memenuhi janjiku untuk membawamu ke tanah suci tahun ini.

Dan... Seperti itulah yang terjadi. Kini tak mungkin lagi membawamu kesana..

Setahun lalu, ketika kuantar kau dan emak mendaftar haji, kau tak memperlihatkan ekspresi apapun, seperti biasanya, apakah bahagia atau tidak... aku tak pernah paham perasaanmu.

Tapi saat kubereskan kamarmu selepas isya tadi, kulihat brosur tuntunan haji dan umrah di atas mejamu, tertindih oleh kacamatamu. Seketika rasa bersalah kembali menyengatku...

Sesungguhnya, janji itulah yang mengeraskan niatku membawamu rujuk ke rumah sakit yang lebih memadai. Kau harus sembuh total sebelum musim haji, demikian tekadku.

Bahkan ketika dokter-dokter cantik itu memberitahuku adanya komplikasi di semua organ-organ vitalmu, aku bersikukuh pada tekadku.

23 jam yang sangat melelahkan di UGD. Tapi tak ada artinya semua kelelahan itu dibanding keinginanku membuatmu cukup sehat untuk berangkat haji. Kuberanikan diri menemanimu di ruang operasi, menggenggam jemari kirimu saat jarum-jarum panjang menembus lengan kananmu, mendorong selang kecil menuju dada melewati jaringan bahu kanan. Dokter paling terampil pun harus mencoba 4 kali hingga berhasil, dan 4 kali pula harus kukuatkan hati mendengar raung kesakitanmu.

Bahkan kuberanikan diri menandatangani ijin operasi yang lebih berani lagi... yang alhamdulillah akhirnya tidak jadi dilaksanakan karena kondisimu makin tidak stabil.

Sejurus kemudian, ketika asupan oksigen ke otak makin menipis dan darah kotor yang gagal disaring ginjal yang sudah rusak telah menyebar ke seluruh bagian tubuhmu yang renta, kesakitanmu kau ekspresikan dengan rontaan kuat dan erangan tangis tanpa air mata.

Masih kubisikkan di telingamu agar kau kuat dan tahan menjalani semua usaha ini, namun di tengah rontaan dan tangismu tiba-tiba kau ucapkan kalimat samar...., kau bilang sudah tak kuat lagi...

Dan seketika semua tekadku pun runtuh...

Aku lemas dan tersadar bahwa semuanya sudah mustahil, ini sudah tak mungkin lagi dilanjutkan..

Yang tersisa hanyalah keinginan untuk membawamu keluar dari ruangan penuh kesakitan itu secepat mungkin. Keluar menuju kematian yang lebih sederhana. Aku tak mau mendengar tangis kesakitanmu lagi, tak mau melihat rontaanmu lagi.

Syukurlah dalam semua ketegangan ini hadir satu sahabat baik yang sangat membantu. Tak bisa kubayangkan bisa menjalaninya sendirian. Terimakasih kawan..

Dan semuanya pun usai. Alhamdulillah sesuai perkiraan dokter, Allah memberimu jalan yang mudah untuk datang kepadaNya.

Alhamdulillah juga telah kuselesaikan semua tugasku; mengiringi kepergianmu dalam genggaman tangan yang erat dan bisikan lafadz-lafadz suci, memandikan jenazahmu dengan kedua tanganku, menyambutmu di liang lahatmu, mengurai tali kafanmu, mengarahkanmu menghadap kiblat.

Lama aku berfikir, merenung.., Meski tak bisa kupenuhi janjiku padamu, Alhamdulillah Allah telah memberiku waktu-waktu paling berharga sepanjang hidupku untuk memberikan penghormatan terakhirku kepadamu.

Aku sadar, kita tak pernah dekat, dan Allah telah mendekatkan kita, bahkan sangat dekat, dalam momen luar biasa ini, walau cuma sekejap.

Aku tak pernah paham misteri linangan air matamu tiga hari lalu, tapi kuanggap itu sebagai tanda mata terbaikmu kepadaku. Akan kukenang seumur hidupku.

Selamat jalan... Bapakku.

Lamongan, 11 Juni 2012, pukul 22:30

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TAIL WAGGING THE UNDERDOG

Ngobrol bersama anak-anak media belakangan ini kian menjurus ke arah keprihatinan yang sama; konglomerasi. Media massa kita hari ini telah berkelompok menjadi grup-grup besar yang dikontrol oleh kurang dari 10 milyarder (bahkan triliuner) pemilik media. Sebut beberapa contoh: MNC grup, Bakrie grup, Kompas grup, Tempo grup, JPNN dst. Setiap grup memiliki televisi, radio, koran, majalah, dan portal internet-nya sendiri. Ini bisnis yang sangat-sangat besar.

Lazimnya dalam core bisnis yang sama, antar grup pasti bersaing ketat demi jumlah pemirsa, oplah, pembaca, atau jumlah pengunjung (untuk internet). Akuisisi satu media oleh grup lain, hak siaran langsung atau tayang eksklusif, saling membajak wartawan dengan iming-iming gaji lebih tinggi menjadi bumbu sehari-hari. Termasuk persaingan ketat dalam konten informasi, siapa yang leading sebagai trendsetter berita dialah yang akan bertahan dan jaya.

Pertemuan lanjutan dengan seorang jurnalis senior yang kerap mengkritik kualitas berita media massa saat di jagad twitter memberi saya dua pencerahan, tidak rugi saya menanggap beliau dari jam 9 malam hingga jam 6 pagi.

Pertama adalah hakikat bisnis media itu sendiri. Orientasi utama media massa adalah laba, sama dengan bisnis-bisnis yang lain.Kedua adalah relasi media massa dengan kehidupan sosial yang lain. Bagian ini menurut saya paling menarik.

Media massa dalam sistem dunia bebas diposisikan sebagai pilar keempat demokrasi. Artinya, dalam posisi itu, media massa “seharusnya” bukan sekadar bussiness as usual. Ada missi sosial di balik media massa mengingat ia menjadi satu-satunya alat komunikasi massa paling massif dan efektif. Ia menjadi medium antar berbagai pihak, kepentingan dan stakeholder di sebuah kawasan.

Dalam konteks normatif sebuah medium adalah bebas kepentingan karena ia hanya berfungsi memediasi. Namun definisi ini hanya das sollen (apa yang seharusnya), bukan das sein (apa yang benar terjadi).

Dalam kenyataan bahkan nyaris tidak pernah ditemui media yang tidak punya kepentingan. Hal ini kembali ke hakikat awal media sebagai sebuah bisnis yang harus meraih laba. Persaingan mendorong media-media tidak hanya menyiarkan berita (news broadcasting) tetapi bila perlu membuat berita (news making). Terdapat perbedaan signifikan antara keduanya.

Sebuah berita tidak dapat menyiarkan dirinya sendiri, ia perlu diberitakan oleh awak media. Dari sinilah kepentingan itu berawal. Ketika memilih dan meramu sebuah berita menyusup di dalamnya perspektif awak media sekaligus kepentingan pemilik media.

Dalam memilih berita mana yang perlu diberitakan dan bagaimana disajikan untuk publik, awak media perlu melakukan framing, pembingkaian berita sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan empunya. Tanpa framing berita bukanlah berita, hanya semacam pengumuman jadwal ronda di pos hansip.

Lebih jauh lagi media dapat membuat agenda setting, penciptaan latar dan reasoning sehingga hanya kebenaran media yang akan menjadi kebenaran publik. Benar-salah, baik-buruk bagi masyarakat adalah apa yang telah ditentukan oleh media. Media beraksi massa mengamini.

Sialnya, (lagi-lagi), kekuasaan politik dan ekonomi di sebuah kawasan merupakan dua matra terpenting yang mempengaruhi sistem sosial dan dengan demikian memaksa media massa bergulat serius, sebagian besar tunduk dan hanya sejumlah kecil yang bertahan independen. Parahnya, (lagi-lagi-lagi), para pemilik media sekaligus merupakan figur-figur terpenting dalam sistem kekuasaan politik dan ekonomi. KLOP SUDAH.

Sang senior kemudian menyarankan saya menonton film lama berjudul Wag The Dog (1997), berkisah tentang bagaimana para spin doctors menggunakan jaringan media massa untuk menyiarkan kebohongan, menghancurkan lawan, atau mengangkat derajad seorang public figure. Sebuah black comedy satiris yang cukup mencerahkan walaupun menyiksa saya (karena tanpa subtitle Indonesia).

Film ini diangkat dari novel berjudul American Hero (1993) karya Larry Beinhart. Kisah aslinya bercerita tentang bagaimana Presiden George H.W Bush (Bush senior) menciptakan fake war (Perang Teluk) hanya demi terpilih kembali pada masa jabatan periode kedua. Namun dalam versi film kisahnya diubah tentang seorang incumbent Presiden AS yang terjebak skandal seks dengan seorang remaja putri hanya 2 minggu sebelum Pilpres. Dedengkot spin doctors Conrad Brean, diperankan Robert DeNiro, mati-matian memeras otak untuk mengalihkan isu skandal sex dengan menciptakan berita palsu serangan teroris di Albania, dibantu produser Hollywood kenamaan Stanley Motss, diperankan Dustin Hoffman. Motss membuat film pendek palsu tentang teroris Albania bahkan menyiapkan lagu khusus untuk menegaskan tagline.

Ketika seorang staf kepresidenan serius bertanya: “Mengapa Albania?” DeNiro dengan enteng menjawab: “Mengapa tidak? Kita tidak tahu apa itu Albania dan semakin banyak masyarakat yang tidak tahu tentang negara Albania akan semakin baik efek(berita)nya”. Walhasil melalui jejaring luas media, berita palsu itu dikonsumsi masyarakat sebagai kebenaran tanpa banyak tanya.

Tagline di awal film cukup menginspirasi: Why does a dog wag its tail? Because a dog is smarter than its tail. If the tail were smarter, the tail would wag the dog.

Frasa “Tail wagging the dog”, merupakan idiom bahasa Inggris lama, berarti: a minor or secondary part of something controlling the whole (mengutip ngawur dari wikipedia.org, maksudnya bahagian kecil yang mengontrol keseluruhan, seperti para spin doctors dan media massa yang mengontrol opini publik).

Mari kita kembali ke Indonesia…..

Semua yang dikhawatirkan Larry Beinhart tersaji lengkap di meja makan bernama Indonesia. Para juragan media yang sekaligus elit politik dan ekonomi (lihat seriusnya Surya Paloh pidato bermenit-menit penuh busa di Metro-TV atau golkar lagi golkar lagi di TV kuning); media massa yang kelewat bebas (sidang pengadilan pun bisa disiarkan live, padahal di AS itu diharamkan). Paling celaka adalah politisi yang tak punya media, seperti Anas Urbaningrum yang harus rela menjadi bulan-bulanan kebrutalan media.

Masalahnya adalah, di tengah bursa sengit kepentingan jelang laga 2014, dimana setiap oligark saling bunuh guna memastikan panggung 2014 terbuka lebar untuk mereka dan bersih dari para pesaing, media massa menjadi pisau paling ampuh untuk menusuk, menjungkalan, dan menguliti lawan. Bukan kebenaran tetapi kepentingan yang bekerja.

Masalahnya lagi (lagi-lagi masalah), dimana kita bisa bersembunyi dari serbuan operasi media? Setiap hari televisi menjebak mata dan telinga; koran, majalah, internet mendesak masuk. Pernahkah membayangkan ada 9 dewa mabuk tengah berlomba menggencet kita dari segala penjuru? Mencemari semuanya, termasuk udara yang kita hirup. Dimana kita bisa bersembunyi?

Konon propaganda media pertama kali diperkenalkan Dr. Joseph Goebbels, menteri propaganda Nazi Jerman menjelang dan selama Perang Dunia II. Hanya melalui siaran radio yang terus diulang-ulang Nazi berhasil merubah masyarakat Jerman yang beradab (tapi sedang frustasi) menjadi bangsa pembunuh sadis. Siaran radio yang tanpa henti memenuhi atmosfir perlahan menyusup masuk kepala orang Jerman. Kebohongan yang terus diulang perlahan akan menjadi “kebenaran”, teori ini telah dibuktikan Joseph Goebbles. Hanya dengan radio, belum ada televisi dan internet.

Versi lebih modern terjadi di AS era George W. Bush (Bush junior) melalui sandiwara perang melawan terorisme dan dalih ancaman senjata pemusnah massal yang dilansir media-media mainstream AS. Tuduhan senjata pemunah massal sebagaimana ditudingkan media-media mainstream tidak pernah terbukti keberadaannya, Namun Iraq terlanjur telah luluh lantak akibat rangkaian kebohongan Bush/Media hanya demi terpilihnya kembali George W. Bush dan kenyangnya oligark di sekitarnya.

Kurang terpelajar apa masyarakat AS? Kurang tangguh apa para penantang perang di sana? Tetap saja menjadi sasaran empuk para spin doctors penguasa opini media. Media Massa adalah “Media mencipta kebenaran dan Massa mengamininya”.

Bagaimana dengan kita? Para underDOG ini?

Yang merasa well informed karena menonton lawyers club di TV kuning, pembaca setia detik.com, atau mengikuti timeline @TrioMacan2000;

Yang merasa pintar tanpa sadar kepala kita sedang dipahat oleh 9 dewa mabuk oligark media.

Tail wagging the underDOG absolutely.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Batas?

Ancaman terdekat dari iman seorang ahli ibadah berasal dari dirinya sendiri.
Ketika seorang mukmin tergopoh bangun menuju pancuran mengambil air wudlu atau bermimpi buruk akibat lupa shalat Isya', terselip rasa aman berada dalam lingkaran kesucian yang entah muncul dari mana. Lingkaran yang adakalanya, bahkan seringkali, berganti wujud menjadi lingkaran kepongahan si naif yang merasa sok suci.

Dalam bentuk sedikit ekstrim, seseorang yang merasa dilingkari kesucian dengan mudah membagi dunia antara kami dan mereka, benar dan jahat, iman dan kuffar. Saya sebut ini upaya memperkosa dunia. Padahal dunia ini lebih dari dua warna. Meskipun dunia tetap akan bergerak tanpa peduli bagaimana cara seseorang memikirkannya. Dalam bentuk lebih ekstrim lagi adalah FPI. Tetapi sebagian besar kita adalah FPI-FPI kecil..

Seseorang berucap: bagaimana kamu bisa demikian meyakini imanmu jika kamu hanya berdiri di zona aman? Membenci maksiat tanpa pernah tahu bagaimana wujud maksiat.. Berpuasa Ramadlan di tengah mayoritas muslim yang menuntut dihormati oleh minoritas yang tak puasa. Saya barangkali lebih acungi jempol minoritas muslim yang tetap berpuasa di tengah lautan nasrani, tanpa harus memasang spanduk: "HORMATILAH ORANG YANG BERPUASA" di depan masjid. Atau pada OB-OB di tempat Spa yang tetap puasa di sela-sela membersihkan lendir yang ditinggalkan para tamu.

Masjid di sekitar komplek tempat tinggal saya setiap sore giat mengganggu telinga melalui speakernya yang sudah rusak. Tidak cukup dengan azan masih ditambahi berbagai nyanyian arab puji-pujian. Majelis Zikir yang pengikutnya memenuhi jalanan, berkuasa melebihi polisi. Tidakkah mereka sadar lafadz zikir dari 1.000 mulut bisa dimentalkan oleh gerutu 5.000 mulut pengguna jalan...

Semua di atas hanya contoh-contoh agak ekstrim yang barangkali jauh dari kita. Anda bisa bilang: saya tidak begitu kok, itu mah teman saya dst...

Tetapi hati dan pikiran kita tidak jauh berbeda dari kepalan tinju dan bambu runcing FPI. Setiap kita merasa aman dalam lingkaran imajiner, menjauhi dan membenci hal-hal buruk yang kita tidak pernah tahu wujudnya, menghindari dan membenci orang-orang bermasalah dan para pendosa (menurut kita), kita ikut memperkosa dunia!

Rumi mengingatkan kita; Tuhan dan setan berbaur di dunia hingga akhir zaman. Atas nama apa kita hendak menyekatnya?
Bukankah lebih indah melihat warna-warni dunia apa adanya... tanpa memaksanya menjadi dua warna saja, hitam dan putih. Bukankah lebih indah menjalani kehidupan yang menurut kita baik tanpa harus menista yang kita anggap buruk... Bukankah ini semua hanya gradasi warna...dari tak terhingga menuju tak terhingga yang kita tak akan pernah tahu dimana kita berdiri.

Sederhananya saya lebih suka mereka yang tidak membatasi dirinya, bermurah hati terhadap semua warna tanpa hilang kilau putihnya, berhenti membenci, memberi kenyamanan kepada semua orang, membangkitkan elan spiritual tanpa menggurui, tidak menghakimi siapapun, mengajak tanpa memaksa, mendorong tanpa tekanan. Tersenyum hingga akhir masa. Seindah melihat gadis berjilbab yang masih sisakan keseksiannya, atau bertampilan trendy bahkan seksi tanpa lupa shalat (Sally namanya :D).

Kepada semua yang tersinggung maafkan saya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS