Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Invicible Hand Itu Ya Allah.

Cara terbaik menghadapi keterbatasan yang sedang mencekik leher adalah mengingat dan menyadari betapa seringnya Allah menolong kita dari arah yang tidak pernah kita sangka. Dengan begitu, tak perlu meratapi diri dan mengeluh seperti anak-anak Israel memprotes manna yang diturunkan Allah dari langit setiap hari, sehingga anak-anak Israel tak perlu lagi sibuk mengais-ngais makanan setiap hari. Jika kita berani menghitung, entah sudah berapa kali kita telah diselamatkan saat berada di bibir tebing... Tiba-tiba saja ada orang lewat memberi pertolongan, atau ada orang yang sudah lama mangkir tiba-tiba datang membawa kejutan, atau datang kawan lama yang membutuhkan bantuan yang kita mampu lakukan, dan atau-atau yang lain.. Bagi mereka yang jauh lebih tawadlu, pertolongan dari Allah itu bukan hanya sering, tapi selalu. Hingga udara yang kita hirup setiap detik, bukanlah peristiwa yang tanpa sebab khusus. Semuanya adalah pertolongan. Semut saja diberikan pertolongan, apalagi kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pencuri

Pencuri tidak mendatangi rumah-rumah kosong. Mereka selalu mendatangi rumah-rumah berisi milik para Hartawan.


Nafsu atau ego hadir lebih serius ketika kita sedang merasa baik, usai berbuat kebaikan. Dengan kecanggihan yang khas sang ego mencuri amal baik kita seolah itu miliknya. 

Berhati-hatilah pada sang pencuri yang bersemayam di dalam dirimu sendiri. Terutama setelah engkau kerjakan kebaikan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

There is a Candle in your Hearth

There is a candle in your heart Ready to be kindled There is a void in your soul Ready to be filled

You feel it, don’t you? You feel the separation From the beloved Invite him to fill you up Embrace the fire

Remind those who tell you otherwise that love Comes to you of its own accord And the yearning for it Cannot be learned in any school

-Jalaluddin Rumi-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wangsul

Gusti Pengéran, mboten wonten éngkang langkung saé tinimbang mlampah sadhérék nginthili kerso Panjenengan. Ibaratipun baito éngkang dhadal ing tengahipun jaladri, tuntun kawulo tumuju dhateng pesisir. Pesisiripun Panjenengan. Panggenanipun sedoyo jiwo éngkang saé wangsul. Kulo sampun tuwuk nuruti kerso piyambak, éngkang palsu, mboten jujur, pungkasanipun namung getir lan perih. Kulo nyadong pitedah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ujung Bulan Aneh

Seorang kawan memposting pernyataan pendek di akun twitternya; …bulan aneh…, untuk menyebut bulan Ramadhan. Bulan yang aneh… Anda sepakat dengan itu?

Jika kata aneh merujuk pada perlombaan beribadah dan beramal, semua melihat makan di siang hari menjadi aneh dan memalukan di bulan ini, maka harus dilakukan sembunyi-sembunyi. Aku sendiri menganggap tidak merokok dan ngopi di siang hari lebih terasa penderitaannya dibanding makan.

Tapi bukankah ini hal yang biasa, maksudku, dari kecil kita sudah berpuasa (entah anda..), dengan semua ritusnya, sahur, buka puasa, tadarrus, sahur, imsyak, gosok gigi…lalu tidur lagi, dimaafkan jika bangun lebih siang, ini kan puasa… apa yang aneh?

Aku justru merasakan keanehan itu bukan terletak pada ritus ibadahnya. Tetapi pada minggu terakhir seperti sekarang ini. Ada rasa asing dan agak menggigit ketika satu demi satu kawan-kawan pamit mudik. Tiba-tiba masuk ruang sunyi di ujung sebuah lorong, ini akhir waktu. Pintu hendak ditutup dan orang-orang bergegas pergi.

Ini berarti bukan puasa yang aneh, tapi mudik. Secara literal mudik hanyalah pulang kampung. Namun dalam praktek tidaklah sesederhana itu. Mudik berarti anda harus siap menguras rekening, menunggu THR atau semua jenis imbalan yang lain. Bagi orang-orang biasa, mudik bisa berarti…habiskan tabungan setahun. Di luar aspek materi, mudik juga berarti mari arisan keluarga… kembali ke akar, dan ziarah

Untuk kalian yang telah tercerabut dari akar, tak punya tujuan bermudik… apa yang anda rasakan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAJI: Tentang Kemabruran

Enam tahun lalu, dalam satu blog yang sudah kuhapus, aku pernah membuat tulisan singkat berjudul Kaji Sapi atau Haji Sapi. Bukan menunjuk kepada orang yang naik haji karena menjual sapi, tetapi berasal dari ungkapan kekesalan seorang tetanggaku terhadap seorang haji (berpici warna putih seperti warna kulit sapi) yang setelah pulang dari haji masih tetap berperilaku buruk, rakus tanah hingga menyerobot batas tanah tetangganya. Dasar Haji Sapi! Demikian umpatnya.

Kita sering mendengar istilah Mabrur, semua jamaah mengharapkan kemabruran, aku—meskipun kurang pede—juga mengharapkannya.

Tidak ada ukuran yang jelas tentang kemabruran. Orang-orang yang merasa mendapatkan pengalaman ruhani yang aneh-aneh selama di tanah suci, itu bukan ukuran kemabruran. Demikian juga orang yang berlinang air mata ingin berangkat haji lagi karena merasa demikian mencintai Ka’bah, bukanlah ukuran kemabruran.

Hanya Allah yang menentukan dan tahu siapa yang mabrur hajinya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengilustrasikan bahwa dari 600.000 jamaah haji belum tentu ada 6 orang yang hajinya mabrur. Duhai sulitnya..

Seorang yang berkhutbah wukuf di tendaku di Arafah membuat penjelasan yang menarik tentang tanda-tanda atau indikator kemabruran. Penjelasannya berdasarkan sebuah hadist yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrany: Dari Jabir RA, dari Nabi Muhammad SAW berkata "Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga". Lalu beliau ditanya "Apa tanda kemabruran ya Rasul?" Rasul bersabda "Memberi makan orang yang kelaparan, dan tutur kata yang santun".

Ternyata tanda-tanda kemabruran berdasar hadist nabi bukanlah tanda-tanda yang bersifat spiritual/transendental (alibi seorang haji yang tidak bisa menangis di depan Ka’bah) tetapi murni bersifat duniawi.

Sang khatib menjelaskan: tutur kata yang santun atau lisan yang baik adalah lisan yang tidak pernah menyakiti hati yang mendengar, memberi semangat dan harapan bagi yang mendengar, menghadirkan kenyamanan buat siapa saja yang diajak bicara.

Memberi makan orang yang kelaparan adalah semangat untuk selalu berupaya meringankan beban orang lain; tangan, kaki, harta, dan hatinya selalu diringankan untuk digunakan membantu orang-orang lain.

Penjelasan yang sederhana, luhur, dan tidak semudah mengatakannya.

Semoga aku tidak menjadi Haji Sapi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAJI: Tentang Persaudaraan

Aku bertanya-tanya apakah sebenarnya Hijir Ismail itu?, bangunan setinggi dada berbentuk setengah lingkaran yang menempel pada salah satu sisi Ka’bah. Hal ini membuat Ka’bah seperti menghadap ke arah Hijir Isma’il. Saat berthawaf mengelilingi Ka’bah kita dilarang menyelinap pada lorong di antara Ka’bah dan Hijir Isma’il, itu membuat thawaf kita tidak sah. Dengan demikian berthawaf mengelilingi Ka’bah sekaligus berarti turut mengelilingi Hijir Isma’il. Lalu apakah Hijir Ismail itu?

Dari beberap sumber yang kubaca, Hijir Isma’il adalah tempat dimana Nabi Isma’il diasuh semasa kecil, dan yang lebih penting lagi, tempat dimana Siti Hajar (ibunda Isma’il) dimakamkan. Dengan demikian hanya ada satu manusia yang makamnya ikut kita thawafi ketika mengelilingi Ka’bah. Satu-satunya manusia itu adalah Siti Hajar, seorang perempuan, budak, dan berkulit hitam. Allah telah mengutamakan Hijir Isma’il bahkan di atas Maqam Ibrahim sendiri. Hanya seorang perempuan budak berkulit hitam, lalu mengapa?

Allah telah menjungkirbalikkan konsep gender, derajad manusia dan prasangka rasial di rumahNya yang suci. Penghormatan terhadap Siti Hajar, budak perempuan yang berkulit hitam, menegaskan bahwa semua manusia adalah sama sederajad dan selayaknya saling bersaudara.

Persaudaraan dan empati terhadap sesama menurutku merupakan salah satu pelajaran paling penting dari haji. Dari seluruh rangkaian ibadah haji berkali-kali kita diingatkan oleh spirit persaudaraan dan empati, langsung maupun tidak langsung, dan kerap kali ini menimbulkan dilema tersendiri.

Bukan kebetulan bahwa sebagian besar jamaah haji telah berusia senja. Mereka lemah, akrab dengan penyakit, kepanikan dan kebingungan di tengah ramai manusia jamaah haji. Kita dikelilingi oleh manusia-manusia renta yang butuh pertolongan.

Maka manakah yang lebih utama; mengejar kesempatan mencium hajar aswad atau merawat jamaah renta yang sakit di sebelah kita? Memburu kesempatan berdoa di Raudlah dan Multazam atau menolong jamaah renta yang tersesat kebingunga? Dilema semacam ini terus hadir di depan kita. Jelas bahwa semua jamaah ingin ibadahnya sesempurna mungkin selama di tanah suci, namun menegakkan persaudaraan dan meneguhkan empati kepada sesama juga merupakan intisari dari haji.

Ada sebuah riwayat (yang aku lupa membacanya dimana) yang menyebutkan bahwa pada salah satu musim haji, Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa tahun itu orang yang hajinya paling diterima Allah adalah si fulan, yang kebetulan ibadahnya kurang maksimal karena ia berhaji sambil menggendong ibunya yang sakit. Wallahu A’lam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS