Aku membangun menara di ketinggian, ujung runcingnya mengiris awan yang berarak-arak. Kutinggalkan hatiku di puncaknya, kubiarkan air hujan membilasnya, embun membasuh warnanya, agar udara dingin ketinggian memurnikannya.
Aku melata di muka bumi dengan kekosongan menelanku. Tersuruk di sela reruntuhan jiwa manusia yang gagal membangun rumahnya. Namun sesekali kuterkesiap saat kilat menyambar puncak menaraku, adakah ia mengenai hatiku?
Di sini tak ada apa-apa. Kesunyian menulikan telinga, kebisingan tanpa makna.
Hingga kuberanikan diri, kupanjat menaraku. Kutemukan hatiku pucat membiru. Ia murni yang nyaris mati. Kubawa turun, kupasang kembali di dadaku. Suhu tubuhku menghangatkannya. Namun ia tak bisa menutup ruang kosongnya, di situ dulu ada cinta.
Menara Hati
PENAT
Malam ini aku dibungkus penat rapat sangat..
Penat fisik (padahal gak melakukan gerakan fisik yang berarti)
Penat otak (padahal sengaja gak mikir berat-berat seharian)
Penat hati ( padahal udah suntik serum matirasa)
Kenapa ya tak pernah bersedia membuatku tersenyum sekali saja.. cukup sekali... tak akan merugikan siapapun... dan tak ada senyum yang abadi.
Aku Ingin IA Menghukumku Sekali Lagi..
Seorang teman pernah membuat pernyataan yang isinya kira-kira begini: “Semakin lama seseorang akan semakin minimalis, khususnya ketika harapan dan cita-citanya melayang satu demi satu”. Pada titik akhir yang tersisa adalah: “Jangan merancang harapan, ambil dan manfaatkan saja yang ada dan/atau tersedia… InsyaAllah di kemudian hari kebahagiaan yang kau peroleh tetaplah sama”.
Beberapa orang yang kukenal membuat pernyataan yang senada, khususnya ketika aku kesulitan menjawab kenapa hingga saat ini aku belum bertemu makhluk berjuluk “jodoh”. Asumsinya adalah aku sudah mencari makhluk itu kemana-mana namun tidak menemukannya dan mereka menganggap penyebabnya karena ekpektasiku yang terlalu tinggi yang sudah saatnya diturunkan ke titik dimana aku tidak pantas menawar lagi. Alasan umumnya: Usia.
Dan pernikahan seseorang kemaren kembali menyegarkan ingatanku akan pernyataan-pernyataan di atas, seperti plot film yang diputar mundur. Sebenarnya tidak ada kesan mendalam dari pernikahan tersebut, sekalipun harus kuakui pada suatu waktu yang lalu aku pernah memiliki harapan tertentu terhadapnya. Harapan yang menurutku setengah hati dan kurang jujur.
Sepanjang yang mampu kuingat, aku belum pernah mengejar harapan yang bernama jodoh. Kalau dongeng Yunani kuno mengenal genre kisah komedi (dan memasukkan kisah cinta & jodoh kedalamnya), maka sungaiku telah lama mengalir tanpa komedi. Ajaibnya aku tidak pernah merasa ada yang kurang.
Hingga kemudian sesuatu yang gejalanya mirip dengan penyakit “cinta” menghampiriku beberapa tahun lalu. Ya… aku jatuh cinta dan seketika menemukan lubang besar dalam diriku. Yang pertama hilang adalah rasa nyaman dalam kesendirian, kemudian diikuti oleh rindu yang menuntut, rasa ingin tahu bagai air dijerang mendidih, dan akhirnya ditutup dengan pamrih yang mustahil dicegah lagi. Sejak saat itu aku tidak bisa menemukan sosok lamaku lagi.
Di tengah amuk badai aku berusaha tetap berdiri, memurnikan hasrat, meskipun harus kuakui ternyata aku tidak pernah bisa obyektif terhadapnya. Dan pernyataan cinta tertinggiku hanyalah “Aku menginginkannya..!!!”.
---Hanya Tuhan yang bisa mencintai (makhluknya) dengan sempurna. Meskipun ternyata IA tetap ingin namaNya dikenal.
Lalu kemudian apa?...
Aku tidak tahu. Aku tidak memiliki kesimpulan. Bahkan aku tidak mempercayai apa-apa lagi.. Tetapi menurutku, jika harapan telah terbang ke langit dan kita tenggelam dalam palung laut yang dalam, apakah satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah dengan menyambar apapun yang ada di dekat kita sebagai pegangan? Hingga detik ini aku mengartikan “cara minimalis” sebagai demikian.
Yang aku tahu…
Aku telah jatuh cinta berkali-kali,… pada orang yang sama, dan kenyataan yang sama. Mungkin itu cara Tuhan menghukumku.
Dan saat ini aku hanya ingin IA menghukumku,… sekali lagi..!!
--Kalibata, bukan resolusi 2009--
SUAR TIPIS
Sesuatu akan jelas pada waktunya, dengan sendirinya. Dan jika kebenaran telah terkuak, maka seluruh penjelasan tiada dibutuhkan lagi. Ia jelas di dalam dirinya sendiri. Secara sempurna.
Tetapi sebagai manusia biasa tak jarang kita memaksakan kehadiran penjelasan sebelum jiwa kita sepenuhnya mekar. Kita bertanya pada orang di sekeliling sekadar untuk mencocokkan pandangan mereka dengan keraguan kita. Kita bersembunyi di balik nama Tuhan, bertanya dan berdoa, sekadar meminta legitimasi dan jaminan kenyamanan batin yang semu. Dan kita luput bertanya ke dalam diri sendiri. Pertumbuhan batiniah semacam inikah yang kita harapkan?
Lalu kita berlari kesana kemari, memburu keyakinan yang terbang bagai layang-layang putus. Menyumpahi hari ini tetapi berdamai dengan esok. Menangisi kemaren, tetapi memuja esok lusa… tak ada beda saat kita menangis, bernyanyi, atau tertawa. Semua berlalu begitu saja seperti tajuk koran setiap hari.
Kita bertanya dan berdoa seakan sedang mencari jawaban, meretas jalan menuju sinar. Kita lalai bahwa sebagian besar pertanyaan dan doa kita hanya alat pembenar sahaja. Baik pembenaran atas “kebenaran” yang telah kita yakini, atau pembenaran atas “kekonyolan” yang kita lakukan selama ini. Tetapi kita tidak hendak kemana-mana selain memuaskan diri dengan kesadaran palsu. Betapa hebat hati kita menelikung…
Hati bagaikan seekor kuda liar yang sering kita remehkan kekuatannya. Berlagak bisa menungganginya secara benar, menganggapnya telah jinak dan bisa kita kendalikan. Nyatanya kuda liar itu menyeret langkah sesukanya. Membawa kita serta di punggungnya. Kita menungganginya, tetapi tidak mengendalikannya. Berhati-hatilah dengan Hati…
Kejelasan paripurna hanya datang saat kita di ambang mabuk. Kehadirannya menyeruak tanpa bisa dicegah. Seperti terbitnya mentari di setiap pagi. Kehadiran itu sangat tipis, hanya satu larik cahaya yang menyekat ada dan tiada. Antara gelap dan terang. Dan semuanya tak sanggup kita pertanyakan apalagi kita bantah. Ia jelas dengan sendirinya, di dalam dirinya sendiri.
We skipped the light fandango
turned cartwheels 'cross the floor
I was feeling kinda seasick
but the crowd called out for more
The room was humming harder
as the ceiling flew away
When we called out for another drink
the waiter brought a tray
And so it was that later
as the miller told his tale
that her face, at first just ghostly,
turned a whiter shade of pale
She said, 'There is no reason
and the truth is plain to see.'
But I wandered through my playing cards
and would not let her be
one of sixteen vestal virgins
who were leaving for the coast
and although my eyes were open
they might have just as well've been closed
(Procol Harum)
Kimya sang Putri Rumi
Demikian nasehat Kerra, istri Maulana Jalaluddin Rumi, kepada Kimya tentang hidup dan Cinta. Novel yang ditulis Muriel Maufroy ini bercerita tentang kehidupan Kimya, putri angkat Maulana Rumi. Atau lebih tepatnya ia bercerita tentang Rumi dengan meminjam mata Kimya. Perempuan penulis asal Perancis yang bekerja lebih dari 20 tahun untuk BBC World Service ini cukup terampil membawa kita pada suasana pedalaman Turki dan gemerlap Kota Konya abad 13 M, saat dimana sufi & penyair besar Malana Jalaluddin Rumi menulis karya-karyanya. Dan yang lebih penting lagi ia fasih mengurai jalan Cinta.
Kimya adalah sosok takdir Cinta. Kelahirannya di tengah keluarga sederhana di pelosok pedalaman tak menghalanginya untuk menjalani takdirnya. Sejak kecil ia sudah sering “tersesat” dalam badai Cinta hingga dianggap anak aneh oleh keluarganya sendiri. Ketersesatan itu semacam energi melimpah ruah yang tak bisa dikendalikan Kimya kecil. Energi yang mempersuakannya dengan sang pemilik Cinta melalui cara yang belum sanggup ia menanggungnya.
Serena, seorang penganut pagan yang juga dukun kampung meramalkan secara tepat takdir Cinta Kimya. Menurut dukun tua itu: “Cinta adalah mata rantai di antara manusia yang membuat hidup kita bermekaran. Tetapi, agar kita dapat mekar sempurna, mata rantai itu harus diputuskan. Tugas cinta adalah membawa kita melampaui dunia keterpisahan. Hal itu tidak ada kaitannya dengan kebahagiaan di dunia ini. Cinta selalu demikian”
Dan takdir Cinta itulah yang merenggut Kimya. Membawanya ke Konya, bertemu dengan takdir Maulana Jalaluddin Rumi, sosok pria yang telah merambah mimpinya sejak kecil. Dalam bimbingan Maulana ia membaca puisi-puisi Attar, berusaha mereguk Cinta yang tersembunyi jauh di bawah alam bawah sadar.
Hingga suatu saat, mentor yang sangat dikaguminya, yang juga guru agung Kota Konya itu bersua dengan takdir yang dibawa seorang sufi pengelana asal Tabriz, Syamsuddin (Syams). Guru agung itu dalam sekejab berubah menjadi kanak-kanak yang dinaungi cahaya Syams. Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan keduanya tenggelam dalam khalwat yang sangat intim. Dan warga Konya pun cemburu. Mereka merasa diabaikan dan menyalahkan Syams yang dimata mereka hanya pengemis dari timur yang telah merampas akal sehat guru agung Maulana. Ujungnya….mereka mengusir Syams dari Konya.
Mereka, warga Konya, tak sadar bahwa kepergian Syams laksana perginya mentari dari hati Maulana. Ia patah hati, berkepingan. Alih-alih kembali mengajar/membimbing warga Konya, Maulana justru tenggelam dalam haru yang tak tertanggungkan. Ia menulis ratusan syair patah hati yang ditujukan pada sang kekasih, Syams, yang entah berada dimana... Syair-syair itu kemudian menjadi bahan dasar kitab-puisi Dīwān-e Šams-e Tabrīzī, salah satu karya terbaik Rumi.
Tanpa sadar kepergian Syams juga menorehkan luka mendalam di hati Kimya, meskipun lelaki bermata elang itu nyaris tak pernah menyapanya, tetapi terjangan matanya bagai angin topan yang sanggup membakar semua yang dilaluinya. Ia selalu terkenang kalimat Syams tentang “Mawar dari Tabriz, berwarna kuning pucat dengan hati yang berdarah-darah. Hanya hati yang berdarah-darah-lah yang sanggup mereguk Cinta”. Kimya tak pernah bisa memahami kalimat itu, tetapi jiwanya selalu tergetar setiap kalimat itu melintas di kepalanya.
Rupanya Syams kembali. Dan sekarang takdir 3 orang itu, Rumi-Syams-Kimya, demikian bertaut.. Apalagi setelah Rumi menikahkan Syams dengan Kimya. Dan Kimya menerimanya dengan penuh suka cita, sekaligus kebimbangan teramat sangat… “Bagaimana mungkin aku bisa mendampingi pria sekuat Syams…” Hingga Kerra kembali mengingatkannya bahwa “Semua pria mulia dan kuat pada dasarnya adalah rapuh dan mudah dilayani”. Tetapi bagaimana menjinakkan mawar Tabriz yang hatinya berdarah-darah..???
Umumnya warga Konya menganggap pernikahan Syams-Kimya tak berbahagia dan mereka menyalahkan Syams, sosok yang sejak sononya telah dibenci warga Konya. Bahkan terkadang Kimya pun merasakan hal yang sama, ketika suaminya nyaris tak pernah menyentuhnya. Syams menghabiskan waktunya di kamarnya sendiri, berkhalwat dengan Sang Cinta. Naluri istri teramat sering menenggelamkan takdir Kimya. Betapapun ia hanyalah wanita normal yang butuh kehangatan duniawi. Ia bingung bagaimana membangun hubungan dengan suaminya, bagaimana memposisikan; apakah Syams seorang suami, atau seorang Guru?
Hati Kimya terluka parah, bukan sekadar karena pengabaian oleh suaminya, tetapi oleh kebingungannya sendiri, antara menjalani hidup sebagai istri atau menjalani takdir Cinta. Hingga sekali lagi Kerra menguatkannya:
“Ketika hatimu terluka parah hanya ada 3 aturan main: Jangan mengenyahkan kepedihan itu, jangan pernah mencoba mengerti (memahaminya), dan jangan tenggelam dalam kepedihan itu. Buatlah dirimu berserah diri seperti sebatang dahan yang terperangkap dalam badai. Biarkan badai itu menghantammu. Jangan pernah menentangnya dan jangan pula membantah keberadaannya. Dan jangan pernah menyesalinya”.
“Biar hati merengkuh segalanya, kadang ketika akal kita tidak mampu menerima sesuatu, biarkan hati yang menerimanya. Hati menginginkan semuanya dengan lapang dada. Apa yang dianggap baik atau buruk, apa yang dianggap bahagia atau apa pun yang kita sangka sebagai penderitaan, dan hati tidak mengenal imbalan maupun hukuman. Bisakah kau membayangkannya?”
Dan…Hikmah dari Allah datang sebebas burung…
Ia tak pernah datang ketika Kimya demikian mengharapkannya. Tetapi justru datang dengan penjelasan yang lengkap ketika Kimya mengabaikan (tak memikirkannya). Sebuah penjelasan yang sangat murni, bahwa di suatu tempat di pusat badai itu….ada keheningan yang merupakan sarang kebahagiaan. Kebahagiaan yang hening itu merupakan kedamaian dan kekuatan tanpa batas.
Hening adalah bahasa di atas semua bahasa, yang justru dapat ternoda oleh kata-kata. Dan pusat keheningan itu adalah perjumpaan dengan Sang Cinta….
Lalu semuanya menjadi ringan bagi Kimya. Bagai kapas Ia terlepas dari semua beban di hatinya tanpa harus bersusah payah mencari pengertian.
Apalagi ketika di suatu malam yang ganjil, Syams mengundangnya dalam perjumpaan agung. Ekstase dalam tarian siklis yang memabukkan. Cikal bakal tarian darwis.
Maulana Rumi pernah mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak siap menari dalam genggaman Tuhan karena mereka tidak siap dan tidak bersedia untuk terbakar….
Ah… ini apa ya… resensi bukan, review juga kurang pas. Ini hanya mengoceh.
Puji syukur setelah speedy tumbang seharian, dan “terpaksa harus membaca novel” yang tergeletak tak berdaya lebih sebulan.





